BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Metode pembelajaran sangat menentukan keberhasilan anak
didik dalam menuntut ilmu. Metode sebagai cara atau jalan yang harus dilalui
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Penguasaan substansi tidaklah cukup, jika
metode yang dipakai tidak tepat. Hal ini merupakan salah satu usaha yang tidak
boleh ditinggalkan oleh tenaga pendidik adalah bagaimana memahami kedudukan metode
sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan
kegiatan
pembelajaran. Guru sebagai tenaga pendidik diharapkan mampu mengelola seluruh
proses kegiatan belajar-mengajar secara efektif. Untuk itu guru harus memliki
pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam
merancang kegiatan belajar-mengajar, salah satunya adalah tentang memilih
metode yang tepat dalam proses pembelajaran.
Di dalam proses pembelajaran, guru harus memiliki strategi,
agar siswa
dapat
belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan.
Salah
satu langkah untuk memilki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik
penyajian,
atau biasanya disebut metode mengajar. Menurut Slameto (2010:65) metode
mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar.
Metode mengajar digunakan untuk memotivasi siswa agar mampu menggunakan
pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi ataupun menjawab
suatu pertanyaan yang bertujuan agar siswa mampu berfikir dan mengemukakan
pendapatnya sendiri di dalam menghadapi segala hal persoalan. Penggunaan metode
sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kreatifitas
serta minat belajar siswa terhadap semua mata pelajaran yang akan diajarkan.
Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi
minat belajar siswa yang kurang baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu
dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan
ajar
sehingga
guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa
dan
atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, serta penggunaan metode
yang
kurang menarik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya.
Akibatnya siswa malas untuk belajar. Untuk itu disinilah penggunaan
metode
dalam belajar sangat penting agar siswa tidak bosan ketika sedang mengikuti
pelajaran atau ketika proses belajar mengajar berlangsung
Ada tiga aliran psikologi yang
berpengaruh dalam model pembelajaran yang akan dibahas pada makalah ini yaitu;
metode pembelajaran menurut aliran behaviorisme, rasionalisme dan
konstruktivisme.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana konsep dasar teori,
prinsip, dan pandangan teori behaviorisme?
2.
Bagaimana proses pembelajaran
dengan teori behaviorisme?
3.
Bagaimana konsep dasar teori dan
pandangan rasionalisme?
4.
Bagaimana proses pembelajaran dalam
teori rasionalisme?
5.
Bagaimana konsep dasar teori dan
pandangan konstruktivisme?
6.
Bagaimana proses pembelajaran dalam
teori konstruktivisme?
ALIRAN BEHAVIORISME
A.
Pengertian
Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Behaviorisme adalah
teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh
respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau
mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang
diinginkan.
Menurut
teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984). Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon
tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur.
Paradigma behaviorisme memandang pembelajaran
bahasa sebagai proses pembentukan kebiasaan berbahasa dalam kerangka stimulus –
respon – penguatan sebagaimana dikembangkan oleh psikolog B.F. Skinner.
Paradigma ini diperkuat oleh laporan keberhasilan Leonard Bloomfield dalam
menerapkan pembelajaran yang berfokus pada pola – pola kalimat melalui metode
substitution drill. Dari paradigma behaviorisme berkembanglah pendekatan
struktural, yaitu cara pandang atau kerangka berpikir tentang pembelajaran
bahasa yang bertujuan menjadikan pelajar bahasa sebagai analis ulung struktur
bahasa yang dipelajari.
Lain halnya dengan pandangan behaviorisme, penganut kognitivisme atau
mentalisme menyakini bahwa proses pembelajaran bahasa tidak sekedar membentuk
kebiasaan tindak berbahasa melainkan juga sebagai proses kreatifitas mental.
Pandangan ini diperkuat oleh fakta kemampuan anak – anak untuk mengungkapkan
susunan kalimat yang belum pernah mereka dengar atau pun belum diajarkan kepada
mereka. Dalam ruang lingkup pembelajaran bahasa paradigma kognitivisme melahirkan
pendekatan komunikatif, yaitu sebuah pendekatan pembelajaran bahasa yang
dinilai paling sempurna. Pendekatan pembelajaran komunikatif ialah cara pandang
atau kerangka berpikir tentang pembelajaran bahasa yang bertujuan untuk membuat
pelajar bahasa mampu menggunakan bahasa yang dipelajari dalam komunikasi lisan
dan komunikasi tulis.
Dalam sejarah pembelajaran bahasa Inggris
sebagai bahasa asing di Indonsia pasangan paradigma behaviorisme dan pendekatan
struktural telah terlebih dahulu menunjukkan kiprahnya dalam fluktuasi
pembelajaran bahasa pada kurun waktu antara tahun 1947 hingga tahun 1993,
sedangkan sejak tahun 1994 pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing
telah memulai babak baru dengan berpijak pada paradigma kognitivisme dan
pendekatan komunikatif.
Dampak fluktuasi paradigma dan pendekatan pembelajaran bahasa Inggris
bagi sejumlah kalangan yang berkepentingan dalam dunia pendidikan memang akan
sangat terasa. Akan tetapi bagi para pengajar bahasa Inggris, hal tersebut
bukanlah merupakan masalah yang besar apabila mereka tetap berpegang pada teori
kebahasaan yang selalu menjadi rujukan dalam merumuskan materi dan kegiatan
belajar yang dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
Penelitian yang dilakukan terhadap
perkembangan bahasa pada anak tentunya tidak terlepas dari pandangan,
hipotesis, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini sejarah telah
mencatat adanya tiga pandangan atau teori dalam perkembangan bahasa anak. Dua
pandanagna yang controversial dikemukakan oleh pakar dari Amerika, yaitu
pandangan nativisme yang berpendapat bahwa penguasaan
bahasa pada kanak-kanak bersifat alamiah (nature), dan pandangan behaviorisme,
yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada kanak-kanak bersifat “suapan”
(nurture). Pandangan ketiga mincul di Eropa dari Jean Piaget yang berpendapat
bahwa, penguasaan bahasa adalah kemampuan yang berasala dari pematangan
kognitif, sehingga pandangannya disebut kognitivisme.
Kaum behavioris menekankan bahwa proses
pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh
rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum
behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratkan suatu
wujud, sesuatu yang dimiliki atau di gunakan bukan sesuatu yang dilakukan.
Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, diantara perilaku-perilaku
manusia lainnya. Oleh karena itu mereka lebih suka menggunakan istilah perilaku
verbal agar tampak lebih mirip dengan perilaku lain yang harus
dipelajari.
Menurut kaum behavioris, kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh
anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya. Anak dianggap sebagai
penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif
didalam perkembangan perilaku verbalnya. Kaum Behavioris bukan hanya tidak
mengakui peranan aktif sianak dalam proses perkembangan bahasa terutama
ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya.
Kaum bahavioris tidak mengakui pandangan bahwa anak menguasai kaidah
bahasa dan memiliki kemampuan untuk mengabstrakkan ciri-ciri penting dari
bahasa di lingkungannya. Mereka berpendapat rangsangan (stimulus) dari
lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan bahasa
mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang berlaku
secara acak sampai ke kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi melalui
prinsip pertalian S-R (stimulus-respon) dan proses peniruan-peniruan.
B.
Tokoh-tokoh Behaviorisme
Tokoh aliran ini adalah John B. Watson (1878
– 1958) yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teorinya
memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada
perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia
sekelilingnya. Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak balas
(respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah
diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson juga
dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap
perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus –
respons.
Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson
mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada
mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang bermain-main
dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson memulai proses
pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali
Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu. Akibatnya, tidak lama
kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga kelinci putih. Bahkan
terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan topeng Sinterklas yang
berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaziman dapat
mengubah perilaku seseorang secara nyata.
Seorang behavioris menganggap bahwa perilaku
berbahasa yang efektif merupakan hasil respons tertentu yang dikuatkan. Respons
itu akan menjadi kebiasaan atau terkondisikan, baik respons yang berupa
pemahaman atau respons yang berwujud ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran
dengan mereaksi stimulus secara memadai dan memperoleh penguatan untuk reaksi
itu.
Salah satu percobaan yang terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut behavioris adalah yang dikemukakan oleh Skinner (1957) dalam Verbal Behavior. Percobaan Skiner dikenal dengan percobaannya tentang perilaku binatang yang terkenal dengan kotak skinner. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika manusia atau binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat) tanpa adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan. Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya memberinya susu, maka operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus menerus operant semacam itu akan terkondisikan.
Salah satu percobaan yang terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut behavioris adalah yang dikemukakan oleh Skinner (1957) dalam Verbal Behavior. Percobaan Skiner dikenal dengan percobaannya tentang perilaku binatang yang terkenal dengan kotak skinner. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika manusia atau binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat) tanpa adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan. Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya memberinya susu, maka operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus menerus operant semacam itu akan terkondisikan.
Menurut Skinner, perilaku verbal adalah
perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku
itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus
dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan,
perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan.
Sebagai contoh dapat kita saksikan perilaku
anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada ibunya.
Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan pemanis buatan
maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis.
Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama kelamaan tangis
anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es semacam itu lagi
kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti
keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak
akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis
dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya
memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia
akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya.
Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus
berhati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus mengetahui
benar kesenangan siswanya. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak disukai
anak, dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai anak. Jangan
sampai anak diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya, apa
yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai hadiah. Contoh,
anak yang suka bermain sepakbola, akan menganggap pemberian waktu untuk bermain
sepakbola adalah hadiah, sebaliknya, melarang untuk sementara waktu tidak
bermain sepakbola adalah hukuman yang menyakitkan.
Beberapa linguis dan ahli psikologi
sependapat bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara
memadai untuk kapasitas memperoleh bahasa, untuk perkembangan bahasa itu
sendiri, untuk hakikat bahasa dan teori makna.
Teori yang tak kalah menariknya untuk kita
kaji adalah Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov (1848-1936) yang merupakan
teori stimulus – respons yang pertama menjadi dasar lahirnya teori-teori
Stimulus – Respons yang lainnya. Pavlov berpendapat bahwa pembelajaran
merupakan rangkaian panjang dari respons-respons yang dibiasakan. Menurut teori
Pembiasaan Klasik ini kemampuan seseorang untuk membentuk respons-respons yang
dibiasakan berhubungan erat dengan jenis sistem yang digunakan. Teori ini
percaya adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa sejak lahir dalam kemampuan
belajar. Respons yang dibiasakan (RD) dapat diperkuat dengan ulangan-ulangan
teratur dan intensif. Pavlov tidak percaya dengan pengertian atau pemahaman
atau apa yang disebut insight (kecepatan melihat hubungan-hubungan di dalam
pikiran). Jadi dapat dikatakan bagi Pavlov respons yang dibiasakan adalah unit
dasar pembelajaran yang paling baik.
Teori Pavlov tersebut didukung pula oleh
Thorndike (1874-1919) yang menghasilkan Teori Penghubungan atau dikenal dengan
trial and error. Teori ini didasarkan pada sebuah eksperimen yang tak jauh
berbeda dengan Pavlov. Thorndike menggunakan kucing sebagai sarana
eksperimennya yang berhasil membuka engsel dengan cara dibiasakan dan
dihubung-gubungkan. Dari hasil eksperimen itu, Thorndike berpendapat bahwa
pembelajaran merupakan suatu proses menghubung-hubungkan di dalam sistem saraf
dan tidak ada hubungannya dengan insight atau pengertian. Yang dihubungkan
adalah peristiwa-peristiwa fisik dan mental dalam pembelajaran itu. Yang
dimaksud dengan peristiwa fisik adalah segala rangsangan (stimulus) dan gerak balas
(respons). Sedangkan peristiwa mental adalah segala hal yang dirasakan oleh
pikiran (akal). Thorndike menemukan hukum latihan ( the law of exercise) dan
hukum akibat (the law of effect) yang kita kenal sekarang dengan reinforcement
atau penguatan. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika belajar naik
sepeda atau dalam belajar bahasa adalah dalam pengucapan kata-kata sulit.
Kegagalan yang diulang terus menerus lama-kelamaan akan berhasil.
ALIRAN KONSTRUKTIVISME
Pendekatan Konstruktivis Untuk Pengajaran Bahasa Inggris
Sampai awal abad ke-21 ini pengajaran bahasa
Inggris sebagai bahasa asing tampak masih didominasi oleh pendekatan
komunikatif. Ini disebabkan oleh beberapa ciri pendekatan komunikatif, seperti
penggunaan materi pembelajaran yang autentik, penekanan pada makna (meaning)
lebih daripada bentuk (form) bahasa, dan penggunaan interaksi dalam proses
belajar siswa, yang masih relevan dengan tujuan penguasaan bahasa Inggris
sebagai alat untuk berkomunikasi. Namun, dalam dunia pengajaran secara umum
telah berkembang beberapa pendekatan alternatif, yang salah satu di antaranya
adalah pendekatan konstruktivis, yang telah dikenal banyak diterapkan dalam
pengajaran ilmu pengetahuan alam (science).
1. Pengertian Pendekatan Konstruktivis
Menurut Jonassen (1991) dan Marra &
Jonassen (1993), sebagaimana dikutip oleh Carr dkk. (1998: 8), pendekatan
konstruktivis muncul sebagai alternatif terhadap pendekatan objektivis. Dasar
dari pandangan konstruktivis adalah anggapan bahwa dalam proses belajar.
(a) murid-murid
tidak menerima begitu saja pengetahuan yang didapatkan mereka dan menyimpannya
di kepala, melainkan mereka menerima informasi dari dunia sekelilingnya,
kemudian membangun pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang mereka
dapatkan, dan
(b) semua pengetahuan disimpan dan digunakan oleh setiap
orang melalui pengalaman yang berhubungan dengan ranah pengetahuan tertentu.
Pendekatan konstruktivis dalam praktik pengajaran (Brooks & Brooks, 1999:
15) membantu murid-murid menginternalisasi, membentuk, atau mentransformasi
pengetahuan yang baru. Transformasi terjadi melalui adanya pemahaman baru
sebagai hasil dari munculnya struktur kognitif yang baru.
2. Ciri dan Prinsip-prinsip Pendekatan Konstruktivis
Proses belajar dan mengajar yang menggunakan
pendekatan konstruktivis memiliki ciri-ciri (Carr dkk., 1998: 8-9) sebagai
berikut:
(1) murid-murid lebih aktif dalam proses belajar karena
fokus belajar mereka pada proses integrasi pengetahuan yang baru dengan
pengalaman pengetahuan mereka yang lama;
(2) setiap pandangan yang berbeda akan dihargai dan
sekaligus diperlukan; murid-murid didorong untuk menemukan berbagai kemungkinan
dan mensintesiskan secara terintegrasi,
(3) proses pembelajaran harus mendorong adanya kerjasama,
tapi bukan untuk bersaing. Proses belajar melalui kerjasama memungkinkan murid
untuk mengingat pelajaran lebih lama;
(4) control kecepatan dan fokus pelajaran ada pada murid;
cara ini akan lebih memberdayakan murid;
(5) pendekatan konstruktivis memberikan pengalaman
belajar yang tidak terlepas
dari konteks dunia nyata.
dari konteks dunia nyata.
Dalam makalah ini, penulis akan memperkenalkan
sebuah model untuk penerapan pendekatan konstruktivis dalam pengajaran bahasa
Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia, khususnya untuk pengajaran reading
(membaca). Berikut ini akan dibahas beberapa ciri pendekatan konstruktivis,
prosedur pengajaran reading yang digunakan sekarang, dan usulan model
pengajaran reading yang sesuai dengan pendekatan konstruktivis.
Beberapa prosedur pengajaran reading pada
dasarnya memiliki kesamaan, yaitu bertujuan mengecek pemahaman murid dengan
cara diagnosis dan prescription. Pendekatan konstruktivis beranggapan bahwa
pengajaran reading harus ditekankan pada proses dimana murid dianggap sebagai penafsir
makna (meaning-maker).
Oleh karena itu, prosedur pengajaran harus
berbentuk pengajaran dengan model perancah-tangga (instructional scaffolding)
di mana murid dibimbing untuk menafsirkan isi bacaan. Proses belajarnya
dikendalikan oleh murid, sedangkan fungsi guru hanya memberikan arahan dan
dukungan. Dalam proses pembimbingan ini, guru diharapkan pula berperan untuk menggali
pengetahuan awal (prior knowledge) murid, kemudian menghubungkannya dengan
pengetahuan baru yang sedang dipelajari oleh murid. Dengan kata lain, proses
pembelajaran membaca dengan pendekatan konstruktivis merupakan proses interaksi
antara bottom-up dan top-down. Proses bottom-up menganggap bahwa meaning (arti)
ada pada kata-kata yang tertulis, dan pembaca berusaha untuk menangkap meaning
yang dimaksud dalam tulisan tersebut. Sebaliknya, proses top-down menganggap
bahwa meaning tidak hanya ada pada kata-kata yang tertulis, tetapi juga ada
dalam pikiran pembaca dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman mereka (Nunan,
1991: 18). Dalam proses pembelajaran membaca, proses interaksi antara bottom-up
dan top-down dapat terjadi jika guru membimbing murid untuk memadukan pemahaman
meaning dari bahan yang tertulis dengan apa yang ada dalam pikiran murid.
Dengan pola pembelajaran membaca yang
interaktif dan konstruktivis, prosedur pembelajaran reading yang dikembangkan
oleh Flood dan Lapp (1989: 737-740) dapat dipakai sebagai model yang cocok
untuk pembelajaran reading. Model ini terdiri atas 8 langkah, yaitu: (1)
persiapan, (2) pengembangan kosakata (vocabulary), (3) pemahaman dan penggunaan
struktur wacana, (4) membuat pertanyaan, (5) pemerosesan informasi, (6) membuat
ringkasan, (7) membuat catatan, dan (8) membaca bebas/santai.
Pada langkah persiapan, ada tiga hal yang
harus dilakukan guru, yaitu prereading, previewing, dan anticipation. Kegiatan
pre-reading dimaksudkan untuk mengaktifkan pengetahuan awal murid yang relevan
dengan bahan yang akan dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan melalui tiga tahap. Pertama, tahap asosiasi awal (initial
association), dimana guru memilih kata, frase, atau gambar yang menjadi konsep
kunci, kemudian mendiskusikannya dengan murid. Misalnya, jika guru mengajarkan
bacaan tentang Pollution, maka guru dapat menanyakan: What comes to your mind
when you hear the word "pollution"? Pada tahap kedua, yaitu refleksi,
guru menanyakan: Why do those ideas come to your mind? Pada tahap ketiga, yaitu
tahap reformulasi pengetahuan (reformulation of knowledge), guru menanyakan:
Have you gained any new ideas about pollution? Previewing bertujuan untuk
memotivasi murid, yaitu selain dengan cara mengaktifkan pengetahuan awal murid,
juga dengan memberikan latar belakang pengetahuan yang relevan dengan topik
yang diajarkan, dan memantapkan kerangka organisasi teks bacaan.
Pada bagian anticipation, guru mengajak murid untuk memprediksi tentang isi bacaan. Prediksi ini nantinya akan membantu murid mempercepat pemahaman, karena sewaktu membaca teks bacaan murid akan mengecek prediksinya dengan informasi yang didapat dari bacaan.
Pada bagian anticipation, guru mengajak murid untuk memprediksi tentang isi bacaan. Prediksi ini nantinya akan membantu murid mempercepat pemahaman, karena sewaktu membaca teks bacaan murid akan mengecek prediksinya dengan informasi yang didapat dari bacaan.
Langkah kedua adalah pengembangan kosakata.
Telah diketahui bahwa penguasaan kosakata sangat erat hubungannya dengan
comprehension (pemahaman). Oleh karena itu, guru dapat mengembangkan kosakata
murid yang relevan dengan teks bacaan yang akan diajarkan.
Langkah ketiga adalah memahami dan
menggunakan pengetahuan tentang struktur bacaan. Penelitian terhadap teks
bacaan yang berbentuk narasi dan informasi, menunjukkan bahwa untuk yang
pertama struktur bacaan tidak perlu diajarkan karena struktur narasi akan
secara otomatis difahami oleh murid saat membaca. Sedangkan bacaan yang
berbentuk informasi, struktur organisasi bacaan perlu diajarkan kepada murid
untuk mempercepat pemahaman.
Langkah keempat adalah membuat pertanyaan.
Melalui pertanyaan, dapat dipercepat pemahaman murid terhadap isi bacaan. Pada
langkah ini guru hendaknya menyiapkan pertanyaan pertanyaan, baik yang literal
(jawabannya tersurat pada teks bacaan), yang inferential (dengan jawaban yang
tersirat), yang environmental (yang berhubungan dengan lingkungan), maupun yang
evaluational (yang bersifat evaluasi).
Langkah kelima adalah pemerosesan informasi.
Dalam pendekatan konstruktivis dianggap muridlah yang pada akhirnya menciptakan
meaning. Murid menentukan apa yang mereka ketahui dan informasi apa yang mereka
butuhkan. Temuan murid perlu ditindaklanjuti oleh guru dengan pertanyaan How do
you know that? Pertanyaan ini akan menyadarkan murid, apakah temuan tersebut
berasal dari teks bacaan atau dari pengetahuan mereka. Untuk mempercepat
pemahaman, dapat pula digunakan teknik analogi dalam pemerosesan informasi.
Murid yang dibimbing dengan menggunakan analogi, lebih cepat pemahamannya
daripada yang tidak menggunakan analogi.
Langkah keenam adalah membuat ringkasan.
Pemahaman terhadap teks bacaan terjadi melalui tiga tahap: (1) memfokuskan
perhatian pada teks, (2) mencatat informasi dari teks dengan kata-kata sendiri,
dan (3) menghubungkan informasi yang didapat dari teks dengan pengetahuan yang
dimiliki murid. Ketika murid memproses pemahaman melalui tiga tahapan ini,
otomatis kegiatan mereka sama dengan membuat ringkasan (summary).
Langkah ketujuh adalah membuat catatan.
Pembuatan catatan ini diketahui dapat meningkatkan pemahaman, terutama apabila
catatan tersebut dalam bentuk pemetaan konsep.
Langkah terakhir adalah membaca santai atau
membaca bebas. Kegiatan ini sangat membantu pemahaman murid karena murid
sendiri yang memilih bahan yang mereka baca, dan mereka sendiri pula yang
menentukan pemahaman yang mereka inginkan. Kegiatan ini sesuai dengan pandangan
konstruktivis yang memfokuskan pada aktivitas murid. Kedelapan langkah seperti
diuraikan di atas sangat menunjang prinsip pendekatan konstruktivis yang
menganggap murid sebagai meaning-maker. Murid dapat dimotivasi untuk membangun
pemahaman berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka.
Sebagai tambahan, manajemen kelas yang sesuai
dengan pandangan konstruktivis (Jonassen & Rohrer-Murphy, 1999: 61) adalah
yang berupa aktivitas yang terfokus pada interaksi antar-murid yang relevan dengan
konteks lingkungan mereka.
ALIRAN RASIONALISME
A. Pengertian
Rasionalisme
Rasionalisme adalah
aliran filsafat ilmu yang berpandangan bahwa otoritas rasio (akal) adalah
sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran
berbasis pada intelektualitas. Jadi strategi pengembangan ilmu menurut paham
rasionalisme adalah mengekplorasi gagasan-gagasan dengan menggunakan kemampuan
intelektual manusia.
Rasionalisme adalah paham
filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting
dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengatahuan. Jika empiris
mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris,
maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir.
Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.
Dengan demikian, rasionalisme
memerupakan suatu aliran epistimologi yang menjadikan akal (rasio) sebagai
sumber dari segala pengetahuan. Menurut aliran ini, suatu pengetahuan
diperoleh dengan cara berfikir. Selain menjadi sumber pengetahuan, akal juga
digunakan untuk mengetes pengetahuan. Dalam hal ini akal akan menyeleksi apa
sesuatu bias dikatakan suatu pengetahuan atau tidak. Dengan kekuasaan akal
tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna,
dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia.
B. Ajaran-ajaran Rasionalisme
Dalam pembahasan mengenai teori
pengetahuan, Rasionalisme menempati posisi yang penting dalam teori
pengetahuan. Biasanya paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan
ke-18. Wakil – wakil terkemuka kaum itu ialah Descartes, Leibiniz, Spinoza
danWollff.
Paham ini beranggapan, ada
prinsip – prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh budi manusia.
Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang
dunia. Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam budi manusia dan tidak
dijabarkan dari pengalaman.
Aliran ini menekankan bahwa
manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui dengan pasti tentang berbagai
perkara sejak lahir (fitrah). Aliran rasionalisme juga meyakini bahwa akal
sebagai sumber kebenaran satu-satunya. Para penganut rasionalis meyakin bahwa
kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide kita. Jika kebenaran mengandung
makna adanya kesesuaian antara ide dengan kenyataan, maka kebenaran baru
dikatakan benar jika ada didalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh melalui
akal.
Rasionalisme tidak mengingkari
kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera digunakan untuk
merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja.
Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak didasarkan
bahan indera sama sekali.jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang
obyek yang betul-betul abstrak.
C. Tokoh-tokoh
Rasionalisme
Rene Descartes (1596-1650)
Menurut catatan, Descrates adalah
orang Inggris. Ayahnya anggota parlemen Inggris. Pada tahun 1612 M Descrates
pergi ke Prancis. Ia taat mengerjakan ibadah menurut ajaran agama Katholik,
tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh
tokoh-tokoh Gereja. Dari tahun 1629 M sampai tahun 1649 M ia menetap di
Belanda.
Untuk menentukan basis yang kuat
bagi filsafat, ia meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat diragukan.
Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya
tidak mungkin diragukan. Oleh karena itu, Descartes berkata, “Aku yang sedang
ragu itu disebabkan oleh aku berfikir. Kalau begitu aku berfikir pasti ada dan
benar.”
Inti dari filsafat Descartes
secara sederhana bisa dikemukakan sebagai imbauan untuk mencari kebenaran yang
menghadirkan kenyataan yang tak tergoyahkan,yang benar-benar tak bias di
ragukan lagi.
Descartes mengajak kita untuk
mencari kenyataan yang terang dan jelas pada akal budi,yang tak teragukan lagi.
Caranya:
a)
Tidak menerima sesuatu sebagai benar,kecuali terbukti benar
b)
Untuk membuktikan kebenaran suatu hal,kita harus:
Menghindari kesimpulan yang tergesa-gesa
Menghindari dugaan terhadap suatu hal
c)
Kenyataan terbukti benar adalah “apa yang dating secara terang dan jelas pada
akal budi”, sesuatu yang tak mungkin lagi dapat kita ragukan.
B. De Spinoza (1632-1677)
Nama aslinya Baruch Spinoza.
Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi ia mengubah namanya menjadi
Benedictus De Spinoza. Ia hidup dipinggiran kota Amsterdam. (Solomon, 1981: 71)
Spinoza berhasil menyusun sebuah
sistem filsafat yang menyerupai ilmu ukur. Seperti halnya orang-orang Yunani,
Spinoza mengatakan dalil-dalil ilmu merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak
perlu dibuktikan lagi. Artinya jika seseorang memahami makna yang dikandung
oleh kata-kata yang dipergunakan dalam dalil-dalil ilmu ukur, maka ia akan
memahami kebenaran dalil-dalil tersebut. Misalnya, ia kn yakin jika kita memahami
makna yang dikandung oleh pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak
terdekat diantara dua titik”, maka kita dapat mengakui kebenaran pernyataan
tersebut.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ada tiga aliran psikologi yang berpengaruh dalam model pembelajaran yang
dibahas pada makalah ini yaitu; metode pembelajaran menurut aliran
behaviorisme, rasionalisme dan konstruktivisme.
Behaviorisme adalah
teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh
respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau
mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang
diinginkan.
Paradigma behaviorisme memandang pembelajaran
bahasa sebagai proses pembentukan kebiasaan berbahasa dalam kerangka stimulus –
respon – penguatan sebagaimana dikembangkan oleh psikolog B.F. Skinner.
Paradigma ini diperkuat oleh laporan keberhasilan Leonard Bloomfield dalam
menerapkan pembelajaran yang berfokus pada pola – pola kalimat melalui metode
substitution drill. Dari paradigma behaviorisme berkembanglah pendekatan
struktural, yaitu cara pandang atau kerangka berpikir tentang pembelajaran
bahasa yang bertujuan menjadikan pelajar bahasa sebagai analis ulung struktur
bahasa yang dipelajari.
Menurut Jonassen (1991) dan Marra &
Jonassen (1993), sebagaimana dikutip oleh Carr dkk. (1998: 8), pendekatan
konstruktivis muncul sebagai alternatif terhadap pendekatan objektivis. Dasar
dari pandangan konstruktivis adalah anggapan bahwa dalam proses belajar.
(a) murid-murid
tidak menerima begitu saja pengetahuan yang didapatkan mereka dan menyimpannya
di kepala, melainkan mereka menerima informasi dari dunia sekelilingnya,
kemudian membangun pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang mereka
dapatkan, dan
(b) semua pengetahuan disimpan dan digunakan oleh setiap
orang melalui pengalaman yang berhubungan dengan ranah pengetahuan tertentu.
Pendekatan konstruktivis dalam praktik pengajaran (Brooks & Brooks, 1999:
15) membantu murid-murid menginternalisasi, membentuk, atau mentransformasi
pengetahuan yang baru. Transformasi terjadi melalui adanya pemahaman baru
sebagai hasil dari munculnya struktur kognitif yang baru.
Rasionalisme memerupakan suatu
aliran epistimologi yang menjadikan akal (rasio) sebagai sumber dari segala
pengetahuan. Menurut aliran ini, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara
berfikir. Selain menjadi sumber pengetahuan, akal juga digunakan untuk mengetes
pengetahuan. Dalam hal ini akal akan menyeleksi apa sesuatu bias dikatakan
suatu pengetahuan atau tidak.
Tokoh-tokoh rasionalisme diantaranya
adalah Rene Descartes dan Spinoza. Inti dari filsafat Descartes secara
sederhana bisa dikemukakan sebagai imbauan untuk mencari kebenaran yang
menghadirkan kenyataan yang tak tergoyahkan,yang benar-benar tak bias di
ragukan lagi.
Secara umum, Spinoza menggunakan
metode Cartesian dan berusaha membuat hipotesis mengenai kehidupan ini bahwa
ada dan hanya satu subtansi dengan banyak sifat yang tak terbatas jumlahnya.
Dalam konteks ini manusia dan Tuhan adalah satu substansi meski berbeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar