Minggu, 22 Maret 2015

Behaviorism, Constructivism & Rationalism.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Metode pembelajaran sangat menentukan keberhasilan anak didik dalam menuntut ilmu. Metode sebagai cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Penguasaan substansi tidaklah cukup, jika metode yang dipakai tidak tepat. Hal ini merupakan salah satu usaha yang tidak boleh ditinggalkan oleh tenaga pendidik adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan
kegiatan pembelajaran. Guru sebagai tenaga pendidik diharapkan mampu mengelola seluruh proses kegiatan belajar-mengajar secara efektif. Untuk itu guru harus memliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam merancang kegiatan belajar-mengajar, salah satunya adalah tentang memilih metode yang tepat dalam proses pembelajaran.
Di dalam proses pembelajaran, guru harus memiliki strategi, agar siswa
dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan.
Salah satu langkah untuk memilki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik
penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar. Menurut Slameto (2010:65) metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar digunakan untuk memotivasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi ataupun menjawab suatu pertanyaan yang bertujuan agar siswa mampu berfikir dan mengemukakan pendapatnya sendiri di dalam menghadapi segala hal persoalan. Penggunaan metode sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kreatifitas serta minat belajar siswa terhadap semua mata pelajaran yang akan diajarkan.
Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi minat belajar siswa yang kurang baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan ajar
sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa
dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, serta penggunaan metode
yang kurang menarik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar. Untuk itu disinilah penggunaan
metode dalam belajar sangat penting agar siswa tidak bosan ketika sedang mengikuti pelajaran atau ketika proses belajar mengajar berlangsung
            Ada tiga aliran psikologi yang berpengaruh dalam model pembelajaran yang akan dibahas pada makalah ini yaitu; metode pembelajaran menurut aliran behaviorisme, rasionalisme dan konstruktivisme.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep dasar teori, prinsip, dan pandangan teori behaviorisme?
2.      Bagaimana proses pembelajaran dengan teori behaviorisme?
3.      Bagaimana konsep dasar teori dan pandangan rasionalisme?
4.      Bagaimana proses pembelajaran dalam teori rasionalisme?
5.      Bagaimana konsep dasar teori dan pandangan konstruktivisme?
6.      Bagaimana proses pembelajaran dalam teori konstruktivisme?



ALIRAN BEHAVIORISME

A.    Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Paradigma behaviorisme memandang pembelajaran bahasa sebagai proses pembentukan kebiasaan berbahasa dalam kerangka stimulus – respon – penguatan sebagaimana dikembangkan oleh psikolog B.F. Skinner. Paradigma ini diperkuat oleh laporan keberhasilan Leonard Bloomfield dalam menerapkan pembelajaran yang berfokus pada pola – pola kalimat melalui metode substitution drill. Dari paradigma behaviorisme berkembanglah pendekatan struktural, yaitu cara pandang atau kerangka berpikir tentang pembelajaran bahasa yang bertujuan menjadikan pelajar bahasa sebagai analis ulung struktur bahasa yang dipelajari.
Lain halnya dengan pandangan behaviorisme, penganut kognitivisme atau mentalisme menyakini bahwa proses pembelajaran bahasa tidak sekedar membentuk kebiasaan tindak berbahasa melainkan juga sebagai proses kreatifitas mental. Pandangan ini diperkuat oleh fakta kemampuan anak – anak untuk mengungkapkan susunan kalimat yang belum pernah mereka dengar atau pun belum diajarkan kepada mereka. Dalam ruang lingkup pembelajaran bahasa paradigma kognitivisme melahirkan pendekatan komunikatif, yaitu sebuah pendekatan pembelajaran bahasa yang dinilai paling sempurna. Pendekatan pembelajaran komunikatif ialah cara pandang atau kerangka berpikir tentang pembelajaran bahasa yang bertujuan untuk membuat pelajar bahasa mampu menggunakan bahasa yang dipelajari dalam komunikasi lisan dan komunikasi tulis.
Dalam sejarah pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonsia pasangan paradigma behaviorisme dan pendekatan struktural telah terlebih dahulu menunjukkan kiprahnya dalam fluktuasi pembelajaran bahasa pada kurun waktu antara tahun 1947 hingga tahun 1993, sedangkan sejak tahun 1994 pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing telah memulai babak baru dengan berpijak pada paradigma kognitivisme dan pendekatan komunikatif.
Dampak fluktuasi paradigma dan pendekatan pembelajaran bahasa Inggris bagi sejumlah kalangan yang berkepentingan dalam dunia pendidikan memang akan sangat terasa. Akan tetapi bagi para pengajar bahasa Inggris, hal tersebut bukanlah merupakan masalah yang besar apabila mereka tetap berpegang pada teori kebahasaan yang selalu menjadi rujukan dalam merumuskan materi dan kegiatan belajar yang dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
Penelitian yang dilakukan terhadap perkembangan bahasa pada anak tentunya tidak terlepas dari pandangan, hipotesis, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini sejarah telah mencatat adanya tiga pandangan atau teori dalam perkembangan bahasa anak. Dua pandanagna yang controversial dikemukakan oleh pakar dari Amerika, yaitu pandangan nativisme yang berpendapat  bahwa penguasaan bahasa pada kanak-kanak bersifat alamiah (nature), dan pandangan behaviorisme, yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada kanak-kanak bersifat “suapan” (nurture). Pandangan ketiga mincul di Eropa dari Jean Piaget yang berpendapat bahwa, penguasaan bahasa adalah kemampuan yang berasala dari pematangan kognitif, sehingga pandangannya disebut kognitivisme.
Kaum behavioris menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratkan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau di gunakan bukan sesuatu yang dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, diantara perilaku-perilaku manusia lainnya. Oleh karena itu mereka lebih suka menggunakan istilah perilaku verbal agar tampak lebih mirip dengan perilaku lain yang harus dipelajari.
Menurut kaum behavioris, kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif didalam perkembangan perilaku verbalnya. Kaum Behavioris bukan hanya tidak mengakui peranan aktif sianak dalam proses perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya.
Kaum bahavioris tidak mengakui pandangan bahwa anak menguasai kaidah bahasa dan memiliki kemampuan untuk mengabstrakkan ciri-ciri penting dari bahasa di lingkungannya. Mereka berpendapat rangsangan (stimulus) dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan bahasa mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang berlaku secara acak sampai ke kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi melalui prinsip pertalian S-R (stimulus-respon) dan proses peniruan-peniruan.
B.        Tokoh-tokoh Behaviorisme

Tokoh aliran ini adalah John B. Watson (1878 – 1958) yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teorinya memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak balas (respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus – respons.
Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu. Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secara nyata.
Seorang behavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respons tertentu yang dikuatkan. Respons itu akan menjadi kebiasaan atau terkondisikan, baik respons yang berupa pemahaman atau respons yang berwujud ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran dengan mereaksi stimulus secara memadai dan memperoleh penguatan untuk reaksi itu.
Salah satu percobaan yang terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut behavioris adalah yang dikemukakan oleh Skinner (1957) dalam Verbal Behavior. Percobaan Skiner dikenal dengan percobaannya tentang perilaku binatang yang terkenal dengan kotak skinner. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika manusia atau binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat) tanpa adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan. Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya memberinya susu, maka operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus menerus operant semacam itu akan terkondisikan.
Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan.
Sebagai contoh dapat kita saksikan perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya.
Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus berhati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus mengetahui benar kesenangan siswanya. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak disukai anak, dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai anak. Jangan sampai anak diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya, apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai hadiah. Contoh, anak yang suka bermain sepakbola, akan menganggap pemberian waktu untuk bermain sepakbola adalah hadiah, sebaliknya, melarang untuk sementara waktu tidak bermain sepakbola adalah hukuman yang menyakitkan.
Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai untuk kapasitas memperoleh bahasa, untuk perkembangan bahasa itu sendiri, untuk hakikat bahasa dan teori makna.
Teori yang tak kalah menariknya untuk kita kaji adalah Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov (1848-1936) yang merupakan teori stimulus – respons yang pertama menjadi dasar lahirnya teori-teori Stimulus – Respons yang lainnya. Pavlov berpendapat bahwa pembelajaran merupakan rangkaian panjang dari respons-respons yang dibiasakan. Menurut teori Pembiasaan Klasik ini kemampuan seseorang untuk membentuk respons-respons yang dibiasakan berhubungan erat dengan jenis sistem yang digunakan. Teori ini percaya adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa sejak lahir dalam kemampuan belajar. Respons yang dibiasakan (RD) dapat diperkuat dengan ulangan-ulangan teratur dan intensif. Pavlov tidak percaya dengan pengertian atau pemahaman atau apa yang disebut insight (kecepatan melihat hubungan-hubungan di dalam pikiran). Jadi dapat dikatakan bagi Pavlov respons yang dibiasakan adalah unit dasar pembelajaran yang paling baik.
Teori Pavlov tersebut didukung pula oleh Thorndike (1874-1919) yang menghasilkan Teori Penghubungan atau dikenal dengan trial and error. Teori ini didasarkan pada sebuah eksperimen yang tak jauh berbeda dengan Pavlov. Thorndike menggunakan kucing sebagai sarana eksperimennya yang berhasil membuka engsel dengan cara dibiasakan dan dihubung-gubungkan. Dari hasil eksperimen itu, Thorndike berpendapat bahwa pembelajaran merupakan suatu proses menghubung-hubungkan di dalam sistem saraf dan tidak ada hubungannya dengan insight atau pengertian. Yang dihubungkan adalah peristiwa-peristiwa fisik dan mental dalam pembelajaran itu. Yang dimaksud dengan peristiwa fisik adalah segala rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respons). Sedangkan peristiwa mental adalah segala hal yang dirasakan oleh pikiran (akal). Thorndike menemukan hukum latihan ( the law of exercise) dan hukum akibat (the law of effect) yang kita kenal sekarang dengan reinforcement atau penguatan. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika belajar naik sepeda atau dalam belajar bahasa adalah dalam pengucapan kata-kata sulit. Kegagalan yang diulang terus menerus lama-kelamaan akan berhasil.
ALIRAN KONSTRUKTIVISME
Pendekatan Konstruktivis Untuk Pengajaran Bahasa Inggris
Sampai awal abad ke-21 ini pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing tampak masih didominasi oleh pendekatan komunikatif. Ini disebabkan oleh beberapa ciri pendekatan komunikatif, seperti penggunaan materi pembelajaran yang autentik, penekanan pada makna (meaning) lebih daripada bentuk (form) bahasa, dan penggunaan interaksi dalam proses belajar siswa, yang masih relevan dengan tujuan penguasaan bahasa Inggris sebagai alat untuk berkomunikasi. Namun, dalam dunia pengajaran secara umum telah berkembang beberapa pendekatan alternatif, yang salah satu di antaranya adalah pendekatan konstruktivis, yang telah dikenal banyak diterapkan dalam pengajaran ilmu pengetahuan alam (science).
1. Pengertian Pendekatan Konstruktivis
Menurut Jonassen (1991) dan Marra & Jonassen (1993), sebagaimana dikutip oleh Carr dkk. (1998: 8), pendekatan konstruktivis muncul sebagai alternatif terhadap pendekatan objektivis. Dasar dari pandangan konstruktivis adalah anggapan bahwa dalam proses belajar.
(a)  murid-murid tidak menerima begitu saja pengetahuan yang didapatkan mereka dan menyimpannya di kepala, melainkan mereka menerima informasi dari dunia sekelilingnya, kemudian membangun pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang mereka dapatkan, dan
(b) semua pengetahuan disimpan dan digunakan oleh setiap orang melalui pengalaman yang berhubungan dengan ranah pengetahuan tertentu. Pendekatan konstruktivis dalam praktik pengajaran (Brooks & Brooks, 1999: 15) membantu murid-murid menginternalisasi, membentuk, atau mentransformasi pengetahuan yang baru. Transformasi terjadi melalui adanya pemahaman baru sebagai hasil dari munculnya struktur kognitif yang baru.
2. Ciri dan Prinsip-prinsip Pendekatan Konstruktivis
Proses belajar dan mengajar yang menggunakan pendekatan konstruktivis memiliki ciri-ciri (Carr dkk., 1998: 8-9) sebagai berikut:
(1) murid-murid lebih aktif dalam proses belajar karena fokus belajar mereka pada proses integrasi pengetahuan yang baru dengan pengalaman pengetahuan mereka yang lama;
(2) setiap pandangan yang berbeda akan dihargai dan sekaligus diperlukan; murid-murid didorong untuk menemukan berbagai kemungkinan dan mensintesiskan secara terintegrasi,
(3) proses pembelajaran harus mendorong adanya kerjasama, tapi bukan untuk bersaing. Proses belajar melalui kerjasama memungkinkan murid untuk mengingat pelajaran lebih lama;
(4) control kecepatan dan fokus pelajaran ada pada murid; cara ini akan lebih memberdayakan murid;
(5) pendekatan konstruktivis memberikan pengalaman belajar yang tidak terlepas
dari konteks dunia nyata.
Dalam makalah ini, penulis akan memperkenalkan sebuah model untuk penerapan pendekatan konstruktivis dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia, khususnya untuk pengajaran reading (membaca). Berikut ini akan dibahas beberapa ciri pendekatan konstruktivis, prosedur pengajaran reading yang digunakan sekarang, dan usulan model pengajaran reading yang sesuai dengan pendekatan konstruktivis.
Beberapa prosedur pengajaran reading pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu bertujuan mengecek pemahaman murid dengan cara diagnosis dan prescription. Pendekatan konstruktivis beranggapan bahwa pengajaran reading harus ditekankan pada proses dimana murid dianggap sebagai penafsir makna (meaning-maker).
Oleh karena itu, prosedur pengajaran harus berbentuk pengajaran dengan model perancah-tangga (instructional scaffolding) di mana murid dibimbing untuk menafsirkan isi bacaan. Proses belajarnya dikendalikan oleh murid, sedangkan fungsi guru hanya memberikan arahan dan dukungan. Dalam proses pembimbingan ini, guru diharapkan pula berperan untuk menggali pengetahuan awal (prior knowledge) murid, kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari oleh murid. Dengan kata lain, proses pembelajaran membaca dengan pendekatan konstruktivis merupakan proses interaksi antara bottom-up dan top-down. Proses bottom-up menganggap bahwa meaning (arti) ada pada kata-kata yang tertulis, dan pembaca berusaha untuk menangkap meaning yang dimaksud dalam tulisan tersebut. Sebaliknya, proses top-down menganggap bahwa meaning tidak hanya ada pada kata-kata yang tertulis, tetapi juga ada dalam pikiran pembaca dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman mereka (Nunan, 1991: 18). Dalam proses pembelajaran membaca, proses interaksi antara bottom-up dan top-down dapat terjadi jika guru membimbing murid untuk memadukan pemahaman meaning dari bahan yang tertulis dengan apa yang ada dalam pikiran murid.
Dengan pola pembelajaran membaca yang interaktif dan konstruktivis, prosedur pembelajaran reading yang dikembangkan oleh Flood dan Lapp (1989: 737-740) dapat dipakai sebagai model yang cocok untuk pembelajaran reading. Model ini terdiri atas 8 langkah, yaitu: (1) persiapan, (2) pengembangan kosakata (vocabulary), (3) pemahaman dan penggunaan struktur wacana, (4) membuat pertanyaan, (5) pemerosesan informasi, (6) membuat ringkasan, (7) membuat catatan, dan (8) membaca bebas/santai.
Pada langkah persiapan, ada tiga hal yang harus dilakukan guru, yaitu prereading, previewing, dan anticipation. Kegiatan pre-reading dimaksudkan untuk mengaktifkan pengetahuan awal murid yang relevan dengan bahan yang akan dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan melalui tiga tahap. Pertama, tahap asosiasi awal (initial association), dimana guru memilih kata, frase, atau gambar yang menjadi konsep kunci, kemudian mendiskusikannya dengan murid. Misalnya, jika guru mengajarkan bacaan tentang Pollution, maka guru dapat menanyakan: What comes to your mind when you hear the word "pollution"? Pada tahap kedua, yaitu refleksi, guru menanyakan: Why do those ideas come to your mind? Pada tahap ketiga, yaitu tahap reformulasi pengetahuan (reformulation of knowledge), guru menanyakan: Have you gained any new ideas about pollution? Previewing bertujuan untuk memotivasi murid, yaitu selain dengan cara mengaktifkan pengetahuan awal murid, juga dengan memberikan latar belakang pengetahuan yang relevan dengan topik yang diajarkan, dan memantapkan kerangka organisasi teks bacaan.
Pada bagian anticipation, guru mengajak murid untuk memprediksi tentang isi bacaan. Prediksi ini nantinya akan membantu murid mempercepat pemahaman, karena sewaktu membaca teks bacaan murid akan mengecek prediksinya dengan informasi yang didapat dari bacaan.
Langkah kedua adalah pengembangan kosakata. Telah diketahui bahwa penguasaan kosakata sangat erat hubungannya dengan comprehension (pemahaman). Oleh karena itu, guru dapat mengembangkan kosakata murid yang relevan dengan teks bacaan yang akan diajarkan.
Langkah ketiga adalah memahami dan menggunakan pengetahuan tentang struktur bacaan. Penelitian terhadap teks bacaan yang berbentuk narasi dan informasi, menunjukkan bahwa untuk yang pertama struktur bacaan tidak perlu diajarkan karena struktur narasi akan secara otomatis difahami oleh murid saat membaca. Sedangkan bacaan yang berbentuk informasi, struktur organisasi bacaan perlu diajarkan kepada murid untuk mempercepat pemahaman.
Langkah keempat adalah membuat pertanyaan. Melalui pertanyaan, dapat dipercepat pemahaman murid terhadap isi bacaan. Pada langkah ini guru hendaknya menyiapkan pertanyaan pertanyaan, baik yang literal (jawabannya tersurat pada teks bacaan), yang inferential (dengan jawaban yang tersirat), yang environmental (yang berhubungan dengan lingkungan), maupun yang evaluational (yang bersifat evaluasi).
Langkah kelima adalah pemerosesan informasi. Dalam pendekatan konstruktivis dianggap muridlah yang pada akhirnya menciptakan meaning. Murid menentukan apa yang mereka ketahui dan informasi apa yang mereka butuhkan. Temuan murid perlu ditindaklanjuti oleh guru dengan pertanyaan How do you know that? Pertanyaan ini akan menyadarkan murid, apakah temuan tersebut berasal dari teks bacaan atau dari pengetahuan mereka. Untuk mempercepat pemahaman, dapat pula digunakan teknik analogi dalam pemerosesan informasi. Murid yang dibimbing dengan menggunakan analogi, lebih cepat pemahamannya daripada yang tidak menggunakan analogi. 
Langkah keenam adalah membuat ringkasan. Pemahaman terhadap teks bacaan terjadi melalui tiga tahap: (1) memfokuskan perhatian pada teks, (2) mencatat informasi dari teks dengan kata-kata sendiri, dan (3) menghubungkan informasi yang didapat dari teks dengan pengetahuan yang dimiliki murid. Ketika murid memproses pemahaman melalui tiga tahapan ini, otomatis kegiatan mereka sama dengan membuat ringkasan (summary).
Langkah ketujuh adalah membuat catatan. Pembuatan catatan ini diketahui dapat meningkatkan pemahaman, terutama apabila catatan tersebut dalam bentuk pemetaan konsep.
Langkah terakhir adalah membaca santai atau membaca bebas. Kegiatan ini sangat membantu pemahaman murid karena murid sendiri yang memilih bahan yang mereka baca, dan mereka sendiri pula yang menentukan pemahaman yang mereka inginkan. Kegiatan ini sesuai dengan pandangan konstruktivis yang memfokuskan pada aktivitas murid. Kedelapan langkah seperti diuraikan di atas sangat menunjang prinsip pendekatan konstruktivis yang menganggap murid sebagai meaning-maker. Murid dapat dimotivasi untuk membangun pemahaman berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka.
Sebagai tambahan, manajemen kelas yang sesuai dengan pandangan konstruktivis (Jonassen & Rohrer-Murphy, 1999: 61) adalah yang berupa aktivitas yang terfokus pada interaksi antar-murid yang relevan dengan konteks lingkungan mereka.



ALIRAN RASIONALISME
A.      Pengertian Rasionalisme
Rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu yang berpandangan bahwa otoritas rasio (akal) adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Jadi strategi pengembangan ilmu menurut paham rasionalisme adalah mengekplorasi gagasan-gagasan dengan menggunakan kemampuan intelektual manusia.
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengatahuan. Jika empiris mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.
Dengan demikian, rasionalisme memerupakan suatu aliran epistimologi yang menjadikan akal (rasio) sebagai sumber dari segala pengetahuan. Menurut aliran ini,  suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Selain menjadi sumber pengetahuan, akal juga digunakan untuk mengetes pengetahuan. Dalam hal ini akal akan menyeleksi apa sesuatu bias dikatakan suatu pengetahuan atau tidak. Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia.
B.       Ajaran-ajaran Rasionalisme
Dalam pembahasan mengenai teori pengetahuan, Rasionalisme menempati posisi yang penting dalam teori pengetahuan. Biasanya paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18. Wakil – wakil terkemuka kaum itu ialah Descartes, Leibiniz, Spinoza danWollff.
Paham ini beranggapan, ada prinsip – prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh budi manusia. Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang dunia. Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam budi manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman.
Aliran ini menekankan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui dengan pasti tentang berbagai perkara sejak lahir (fitrah). Aliran rasionalisme juga meyakini bahwa akal sebagai sumber kebenaran satu-satunya. Para penganut rasionalis meyakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide kita. Jika kebenaran mengandung makna adanya kesesuaian antara ide dengan kenyataan, maka kebenaran baru dikatakan benar jika ada didalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh melalui akal.
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera digunakan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak didasarkan bahan indera sama sekali.jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang obyek yang betul-betul abstrak.
C.      Tokoh-tokoh Rasionalisme
Rene Descartes (1596-1650)
Menurut catatan, Descrates adalah orang Inggris. Ayahnya anggota parlemen Inggris. Pada tahun 1612 M Descrates pergi ke Prancis. Ia taat mengerjakan ibadah menurut ajaran agama Katholik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja. Dari tahun 1629 M sampai tahun 1649 M ia menetap di Belanda.
Untuk menentukan basis yang kuat bagi filsafat, ia meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Oleh karena itu, Descartes berkata, “Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku berfikir. Kalau begitu aku berfikir pasti ada dan benar.”
Inti  dari filsafat Descartes secara sederhana bisa dikemukakan sebagai imbauan untuk mencari kebenaran yang menghadirkan kenyataan yang tak tergoyahkan,yang benar-benar tak bias di ragukan lagi.
Descartes mengajak kita untuk mencari kenyataan yang terang dan jelas pada akal budi,yang tak teragukan lagi. Caranya:
a)        Tidak menerima sesuatu sebagai benar,kecuali terbukti benar
b)        Untuk membuktikan kebenaran suatu hal,kita harus:
Menghindari kesimpulan yang tergesa-gesa
Menghindari dugaan terhadap suatu hal
c)        Kenyataan terbukti benar adalah “apa yang dating secara terang dan jelas pada akal budi”, sesuatu yang tak mungkin lagi dapat kita ragukan.
 B. De Spinoza (1632-1677)
Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi ia mengubah namanya menjadi Benedictus De Spinoza. Ia hidup dipinggiran kota Amsterdam. (Solomon, 1981: 71)
Spinoza berhasil menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai ilmu ukur. Seperti halnya orang-orang Yunani, Spinoza mengatakan dalil-dalil ilmu merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Artinya jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam dalil-dalil ilmu ukur, maka ia akan memahami kebenaran dalil-dalil tersebut. Misalnya, ia kn yakin jika kita memahami makna yang dikandung oleh pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat diantara dua titik”, maka kita dapat mengakui kebenaran pernyataan tersebut.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Ada tiga aliran psikologi yang berpengaruh dalam model pembelajaran yang dibahas pada makalah ini yaitu; metode pembelajaran menurut aliran behaviorisme, rasionalisme dan konstruktivisme.
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Paradigma behaviorisme memandang pembelajaran bahasa sebagai proses pembentukan kebiasaan berbahasa dalam kerangka stimulus – respon – penguatan sebagaimana dikembangkan oleh psikolog B.F. Skinner. Paradigma ini diperkuat oleh laporan keberhasilan Leonard Bloomfield dalam menerapkan pembelajaran yang berfokus pada pola – pola kalimat melalui metode substitution drill. Dari paradigma behaviorisme berkembanglah pendekatan struktural, yaitu cara pandang atau kerangka berpikir tentang pembelajaran bahasa yang bertujuan menjadikan pelajar bahasa sebagai analis ulung struktur bahasa yang dipelajari.
Menurut Jonassen (1991) dan Marra & Jonassen (1993), sebagaimana dikutip oleh Carr dkk. (1998: 8), pendekatan konstruktivis muncul sebagai alternatif terhadap pendekatan objektivis. Dasar dari pandangan konstruktivis adalah anggapan bahwa dalam proses belajar.
(a)  murid-murid tidak menerima begitu saja pengetahuan yang didapatkan mereka dan menyimpannya di kepala, melainkan mereka menerima informasi dari dunia sekelilingnya, kemudian membangun pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang mereka dapatkan, dan
(b) semua pengetahuan disimpan dan digunakan oleh setiap orang melalui pengalaman yang berhubungan dengan ranah pengetahuan tertentu. Pendekatan konstruktivis dalam praktik pengajaran (Brooks & Brooks, 1999: 15) membantu murid-murid menginternalisasi, membentuk, atau mentransformasi pengetahuan yang baru. Transformasi terjadi melalui adanya pemahaman baru sebagai hasil dari munculnya struktur kognitif yang baru.
Rasionalisme memerupakan suatu aliran epistimologi yang menjadikan akal (rasio) sebagai sumber dari segala pengetahuan. Menurut aliran ini,  suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Selain menjadi sumber pengetahuan, akal juga digunakan untuk mengetes pengetahuan. Dalam hal ini akal akan menyeleksi apa sesuatu bias dikatakan suatu pengetahuan atau tidak.
Tokoh-tokoh rasionalisme diantaranya adalah Rene Descartes dan Spinoza. Inti  dari filsafat Descartes secara sederhana bisa dikemukakan sebagai imbauan untuk mencari kebenaran yang menghadirkan kenyataan yang tak tergoyahkan,yang benar-benar tak bias di ragukan lagi.
Secara umum, Spinoza menggunakan metode Cartesian dan berusaha membuat hipotesis mengenai kehidupan ini bahwa ada dan hanya satu subtansi dengan banyak sifat yang tak terbatas jumlahnya. Dalam konteks ini manusia dan Tuhan adalah satu substansi meski berbeda


Tidak ada komentar:

Posting Komentar